Minggu, 21 November 2010

Enron, WorldCom, dan Moral Ekonomi

Minggu-minggu ini tampaknya kita disibukkan dgn runtuhnya beberapa perusahaan raksasa AS baik krn kecurangan maupun penipuan pelaporan akuntansi. Setelah kasus Enron Energy perusahaan terbesar ketujuh di AS dan pemimpin pasar di Wall Street kini kita dihebohkan lagi oleh WorldCom Xerox AOL dan juga Vivendi Universal. Yang mengherankan nama-nama perusahaan akuntan yg sementara ini dianggap “tak mungkin salah apalagi menipu” oleh pemerintah Indonesia seperti Arthur Andersen KPMG dan PriceWaterhouseCoopers justru berada di balik skandal akuntasi tersebut. Apa yg kurang dari sistem kapitalis barat sehingga perusahaan publik tersebut masih berani utk menipu secara sistemik baik kepada pemerintah pemegang saham investor minoritas nasabah pengguna jasa dan masyrakat umum? Mengapa perusahaan akuntan yg seharusnya menjadi tumpuan amanah dan kepercayaan publik justru menjadi dalang dari proses penipuan publik? Mengapa juga hal ini sering terjadi di negeri kita? Dalam kasus Xerox misalnya Pengadilan Negeri New York mengajukan tuduhan bahwa perusahaan produsen mesin fotokopi tersebut telah melakukan manipulasi laporan keuangan sejak 1997 hingga 2000 dgn meningkatkan pendapatan sebesar 3 miliar dolar AS dan menaikkan keuntungan sebelum pajak sebesar 15 miliar dolar. Hal ini utk menarik pialang Wall Street dan investor lainnya . Tercatat konsultan keuangan dan pajak Xerox adl KPMG dan kemudian digantikan oleh PriceWaterhouseCooper. Xerox didenda 10 juta dolar atas pelanggarannya. Ini merupakan angka terbesar dalam sejarah denda atas korporasi di Amerika. Denda sejenisnya pernah juga dikenakan kepada America Online sebesar 35 juta dolar juga utk kasus penggelapan laporan. Demikian juga halnya dgn WorldCom. Raksasa telekomunikasi kedua dunia itu telah menggelapkan biaya sebesar 38 miliar dolar dalam pembukuannya. WorldCom juga diinterogasi FBI krn terbukti akan menghancurkan dokumen-dokumen yg terkait dgn kasus manipulasinya. Ketika ditelusuri ternyata konsultan keuangan dan pajaknya adl Arthur Andersen dan auditornya adl KPMG . Sebagai akibatnya WorldCom terancam gulung tikar dan dicoret dari bursa oleh Nasdaq. Sekitar 17.000 karyawannya akan di-PHK. Vivendi Universal pemilik rumah produksi film raksasa Universal Studio dan jaringan telekomunikasi Akbar Prancis terpaksa harus memecat Jean Marie Messier dan jajaran direksinya krn manipulasi laporan keuangan tahun 2001 sebesar 15 miliar dolar . Mengapa semua itu terjadi? Jawabannya adl ketamakan dan hilangnya nilai-nilai luhur dalam berusaha. Ketika kesuksesan manajemen hanya diukur dari besaran profit dan peningkatan nilai jaringan kerja perusahaan maka target utamanya adl bagaimana meningkatkan nilai saham di pasar modal. Untuk mencapai tujuan ini window dressing adl caranya. Pelaksana tugas yg satu ini tiada lain adl perusahaan akuntan yg sudah punya reputasi. Karena dgn “cantiknya” laporan keuangan investor akan tertarik dan kreditor akan mudah mengucurkan pinjaman. Mentalitas ini dilukiskan New York Times beberapa waktu yg lalu “the bull market convinced analysts investor and accountants and even regulators that as long as stock prices stayed high there was no need to question company practices.” Modus penipuan dan amoral ekonomi juga ternyata sering melibatkan pejabat. Dalam jajaran kabinet George W Bush tercatat beberapa nama mantan saudagar minyak. Dick Cheney misalnya terkenal sangat dekat dgn CEO Enron Kenneth Lay. Dia memberikan banyak kemudahan kepada Lay. Demikian juga halnya dgn Donald Evans yg mengatur lalu lintas dana politik utk suksesnya kampanye Bush dalam kapasitasnya saat itu sebagai manajer kampanye Bush. Saat ini Evans menjadi Commerce Secretary semacam menteri perdagangan dalam kabinet Bush. Lebih dari itu Presiden W Bush pada tahun 1989 pernah menjadi pimpinan perusahaan minyak Harken di Texas. Dalam kapasitasnya sebagai salah seorang eksekutif puncak Bush menjalankan proses penjualan saham Harken seharga 848 ribu dolar. Dua bulan kemudian perusahaan itu dilaporkan menderita kerugiaan jutaan dolar. Securities Exchange Commission lantas meneliti kasus tersebut dan menjumpai banyak kejanggalan di antaranya menutup-nutupi kerugian dgn cara manipulasi akuisisi internal. Sekalipun Gedung Putih berusaha menunutupi kesalahannya kantor kepresidenan AS mengakui bahwa Bush telah gagal dalam menjelaskan kecurigaan orang atas adanya kejahatan ekonomi saat ia melakukan transaksi saham di Harken. Kalau di AS Bush terlibat dalam kasus Harken di tanah air daftarnya lbh panjang lagi. Kita mencatat keterlibatan beberapa mantan presiden dalam kasus Bulog berbagai yayasan demikian juga ketua DPR dalam kasus yg hampir sama. Skandal Pertamina sejak zaman Ibnu Sutowo hingga kasus Balongan. Kasus PLN BLBI BPPN serta ribuan kasus lainnya. Dalam hal ini Abu Ya’la Ma’qil bin Yasar meriwayatkan dari Rasulullah saw bahwa beliau bersabda “Setiap hamba yg diserahi tugas utk memimpin rakyat oleh Allah kemudian pada saat matinya ia dalam menipu rakyatnya maka pasti Allah haramkan surga baginya.” . Keterbatasan sistem pertanggungjawaban kita memang berakhir pada laporan akuntan dan audit. Pertanggungjawaban seorang manajer akan diterima jika ia sudah menjelaskannya kepada direktur. Beban direktur akan berakhir manakala ia sudah mempresentasikannya di depan dewan komisaris. Dewan komisaris sudah bebas tugas bila Rapat Umum Pemegang Saham sudah memberikan persetujuan. Semua angka perusahaan akan diterima investor dan masyarakat bila akuntan publik sudah memberikan opininya. Malangnya di antara semua rangkaian tadi peluang moral hazard dan penyalahgunaan wewenang sangat besar terjadi terlebih lagi banyak sekali variasi akuntansi dan auditing bisa dimainkan. Celakanya lagi yg memainkan angka tersebut adl pihak-pihak yg diamanati tugas utk memeriksa. Menyadari hal ini Islam menegaskan bahwa pertanggungjawaban laporan keuangan dan bisnis seorang Muslim tidak akan berakhir di meja Arthur Andersen Ernest&Young atau KPMG tetapi baru berakhir di meja hijau Allah SWT. Dimensi eternal inilah yg harus kita hayati dan terapkan lbh jauh. Mari kita jalankan ekonomi dgn penuh moralitas. Jangan menipu rakyat krn Tuhan tidak bisa ditipu. Jangan merasa pertanggungjawaban selesai sebelum sampai di padang Mahsyar. Oleh Muhammad Syafii Antonio
sumber file al_islam.chm

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar